👍 Liga Champion

Klub-klub Bola Kampiun Kejutan di Liga-Liga Eropa

indolivescore.com – Leicester City sudah menuntaskan kisahnya yang bak dongeng dalam menjuarai Premier League. Ini secuplik kisah-kisah serupa lainnya dari penjuru Eropa.

Gelar juara Premier League musim ini dipastikan jadi milik Leicester menyusul hasil seri Tottenham Hotspur yang bermain imbang 2-2 di markas Chelsea, Selasa (3/5/2016) dinihari WIB.

Hasil tersebut memastikan Leicester, yang musim lalu harus bersusah payah menghindari degradasi, sudah tak lagi bisa terkejar di puncak klasemen dan menjadi juara liga teratas Inggris untuk kali pertama.

Berikut kisah-kisah mengejutkan lain yang melibatkan aksi para kampiun 12 liga teratas Eropa seperti dirangkum UEFA.com.

Belgia: Genk (1998-99)
Didirikan pada 1988, Genk melanjutkan tren positifnya setelah meraih promosi ke liga divisi teratas pada 1996. Aim Anthuenis memimpin skuat berisikan Istvn Brockhauser, Thordur Gudjonsson, Besnik Hasi, Souleymane Oulare, dan Branko Strupar untuk merebut titel divisi satu Belgia–Pro League–pada 1999.


“Direksi sudah mendengarkan keinginan saya dan juga ada staf yang solid,” kenang Antheunis setelah Genk meraih titel ketiganya pada 2011. “Banyak orang-orang ini yang masih bekerja di sana–itu memastikan adanya kesinambungan.”

Inggris: Nottingham Forest (1977-78)
Keberhasilan Brian Clough menjuarai liga Inggris 1971-72 dengan Derby County merupakan sebuah pencapaian besar, tapi mengulanginya dengan tim Forest, yang susah payah mengamankan promosi 1976-77, benar-benar istimewa. Skuat Clough dan Peter Taylor finis tujuh poin di atas juara Eropa Liverpool, yang juga mengalahkan mereka di final Piala Liga Inggris.

“Saya sedikit bodoh dan sedikit idealis. Kami ingin menghibur, membuat stadion penuh, dan membuat orang-orang gembira,” kata si manajer.

Prancis: Montpellier (2011-12)
Monaco (1978), St-Etienne (1964), dan Bordeaux (1950) sama-sama menjuarai titel Prancis sebagai tim promosi, tapi kesuksesan Montpellier pada 2012 mungkin lebih mengejutkan akibat kehebohan akibat datangnya pebisnis Qatar yang membuat Paris Saint-Germain amat bergelimang uang secara khusus terkat aktivitas transfer.

29a4f688-f11c-4859-b208-b2318362a03d_169

Pada prosesnya, justru skuat Montpellier besutan Ren Girard yang keluar sebagai juara dengan mengandalkan Olivier Giroud, kini di Arsenal, sebagai ujung tombak. “Itu memperlihatkan Anda tak usah takut dengan siapa-siapa dan uang tak dapat membeli kebahagiaan,” kata Girard.

Jerman: Kaiserslautern (1997-98)
Kemenangan 1-0 atas Bayern Munich memulai gebrakan Kaiserslautern, dalam sebuah musim yang paling luar biasa di Bundesliga untuk sebuah klub promosi. Di bawah arahan Otto Rehhagel, Kaiserslautern terus melaju dan juara dengan satu laga sisa.

“Ini adalah sesuatu yang takkan pernah terjadi lagi,” ucap Rehhagel, yang pada Piala Eropa 2004 juga menorehkan capaian mengejutkan lain dengan membawa tim nasional Yunani juara.

Yunani: Larissa (1987-88)
Dengan satu laga tersisa, Larissa menjuarai divisi teratas Liga Yunani pada 1 Mei 1988. Tim berjuluk The Crimsons itu menjadi yang pertama, dan sejauh ini satu-satunya, klub di luar Athena atau Salonika yang finis di posisi pertama.

Vasilis Karapialis merupakan satu dari sejumlah pemain lokal dalam skuat Jacek Gmoch. “Kami memulai dari nol. Kami memasukkan sembilan pemain baru dan hasilnya mengikuti. Itu merupakan sebuah klub yang terorganisir dan keberhasilan menjuarai liga bukan kebetulan,” sebut Gmoch.

Italia: Verona (1984-85)
Verona telah finis di posisi empat dan enam Serie A dan mencapai final Coppa Italia pada musim pertamanya setelah promosi pada 1982, tapi tak ada yang menduga timnya Osvaldo Bagnoli untuk lanjut menjadi juara 1984-85.

Perekrutan penyerang Preben Elkjaer terbukti menentukan, dengan pemain asal Denmark berjuluk ‘Den Gale Mand fra Lokeren’ (Crazy Man from Lokeren) itu mencetak gol dengan kaki kanannya yang tanpa sepatu lawan Juventus. “Saya tak pernah menyesal tidak pernah main untuk sebuah tim besar. Verona, Verona yang itu, adalah yang terhebat,” ucap Elkjaer pada suatu waktu.

Belanda: AZ Alkmaar (1980-81)
Ajax, Feyenoord, dan PSV sudah memonopoli titel Liga Belanda sejak 1964, tapi kemudian dilampaui oleh skuat AZ besutan Georg Kessler yang meraih titel dobel pada 1980-81 dan menembus final Piala UEFA–dan kalah dari Ipswich Town. “Saya memulai pada 1978 dengan sebuah tim yang biasa-biasa saja dan dalam tiga tahun saya mengembangkan mereka,” ucap Kessler.

Pada tahun 2009, AZ meraih titel liga keduanya di bawah arahan Louis van Gaal.

Portugal: Boavista (2000-01)
50 tahun setelah Os Belenenses menjadi tim pertama yang memecah hegemoni tiga besar Portugal, Benfica, Porto, dan Sporting CP, Boavista besutan Jaime Pacheco kembali menghentak.

Sebuah kemenangan 1-0 lawan pemuncak klasemen, dan rival sekota, lawan Porto di tengah musim mengirim Boavista ke puncak klasmeen dan kemenangan kandang 3-0 atas Aves membuat The Panthers memastikan titel dengan satu laga sisa.

Rusia: Rubin Kazan (2008)
Kazan lebih dikenal karena hoki es, basket, dan voli, tapi itu berubah setelah Rubin mendatangkan Sergei Semak, Gkdeniz Karadeniz, Serhiy Rebrov, dan Savo Miloevi untuk hari jadi klub yang ke-50. Di bawah arahan Kurban Berdyev, mereka memenangi tujuh laga awal dan tak pernah kehilangan posisi teratas.

“Butuh waktu lama sebelum sukses ini datang dan Alhamdulillah kami mendapatkannya,” kata Berdyev, seorang pemeluk agama Islam yang acapkali terlihat membawa tasbih di tepi lapangan.

Spanyol: Atltico Madrid (2013-14)
“Hari ini akan menjadi hari terpenting dalam sejarah klub,” ucap Pelatih Atletico Diego Simeone setelah timnya dipastikan juara La Liga, mengakhiri sembilan tahun dominasi Real Madrid dan Barcelona.

c0bc33f8-5116-4897-9d88-13df48783f62_169

Sebuah hasil seri 1-1 lawan Barcelona di hari terakhir musim memastikan titel ke-10 Atletico, dan yang pertama sejak 1996. Atletico cuma kalah empat kali sepanjang musim, kebobolan 26 gol saja sepanjang 38 partai.

Turki: Bursaspor (2009-10)
Menjadi kejutan terbesar dalam sejarah Sper Lig Turki, kesuksesan Bursaspor berarti bahwa mereka masih menjadi satu-satunya tim yang membuat titel tidak jatuh ke klub kota Istanbul sejak 1984.

Dengan pemain-pemain kunci macam Pablo Batalla, Volkan en, Sercan Yldrm, dan Ozan pek, tim berjuluk The Crocodile memastikan titel liga dengan kemenangan 2-1 atas Besiktas setelah Fenerbahe berimbang 1-1 dengan Trabzonspor. “Kami sudah menunggu saat untuk mencuri kesempatan ketika Fenerbahce kehilangan angka. Seluruh Bursa sudah membuat sejarah,” kata pelatih Erturul Salam.

Ukraina: Tavriya Simferopol (1992)
Di tengah dominasi Shakhtar Donetsk dan Dynamo Kyiv di Premier League Ukraina sejauh ini, ada Tavriya Simferopol yang menjuarai edisi pertama ajang itu, yang dilangsungkan selama empat bulan pada 1992 dengan tim-tim dibagi ke dalam dua grup.

Tavriya memenangi grupnya, tapi tak diunggulkan saat menghadapi Dynamo yang memenangi grup lainnya. Tetapi gol tunggal Serhiy Shevchenko pada laga final memastikan Tavriya, yang sudah bubar pada 2014 lalu, keluar sebagai juara.

To Top